15 Rekomendasi Film Perang Terbaik Sebelum Menonton “1917”

Loading...

1917 adalah hit yang mengejutkan di akhir dekade lalu. Sebagai sebuah film yang berlatar pada Perang Dunia I, 1917 berhasil mengembalikan genre perang ke ranah Academy Awards. Namun, mari kita hadapi sebuah fakta: bahkan lima belas entri tidak akan cukup untuk menggambarkan keseluruhan genre perang dengan film-film terbaiknya.

Walau begitu, setidaknya, film-film dalam daftar ini akan memberikan kalian basis pengetahuan yang sangat solid dan cukup bervariasi tentang beberapa entri terbaik yang genre ini tawarkan selama beberapa dekade, tidak hanya sebatas 1917 dan Dunkirk.

Daftar ini akan membahas film-film perang terbaik dari berbagai era, berurusan dengan konflik yang berbeda dan tidak terbatas pada pertempuran saja, walaupun itu, tentu saja, diwakili secara menyeluruh.

Perlu diingat juga, kalau film-film di bawah murni membahas tentang perang atau dampaknya, tanpa dibumbui oleh miskonsepsi sejarah atau drama yang berlebihan. Berikut 15 film perang terbaik yang harus kamu tonton sebelum menonton 1917.

1. The Longest Day
Sebelum ada Saving Private Ryan, ada The Longest Day, sebuah penggambaran epik dari D-Day yang menampilkan para pemain ansambel dan diadaptasi dari buku sejarah dengan judul yang sama. Film ini juga menampilkan pertunjukan dari konsultan militer yang memerankan kembali peran mereka dan ikut mengarahkan film sesuai peristiwa yang sebenarnya.

Dibuat dalam gaya yang hampir mirip dokumentasi-drama, film ini dimulai dari peristiwa sebelum D-Day di pihak Sekutu dan Jerman. Film ini diakhiri dengan Pasukan Sekutu yang dikelompokkan kembali setelah berhasil mengambil alih Pantai Omaha, Normandia, dan memulai kampanye mereka di daratan Prancis.

The Longest Day dinominasikan untuk lima Academy Awards dan berhasil memenangkan dua kategori, yaitu Sinematografi dan Efek Khusus.

2. The Great Escape
Diadaptasi dari buku dengan judul yang sama, sebuah karya non-fiksi karangan Paul Brickhill tentang pelarian massal dari tahanan perang di kamp di Polandia selama Perang Dunia II, The Great Escape adalah sebuah kesuksesan komersial yang luar biasa.

Dalam film ini, karena banyak tahanan yang terus melarikan diri, Jerman akhirnya membangun sebuah kamp POW dengan keamanan tinggi di mana mereka mengumpulkan semua tahanan dari seluruh Eropa yang berhasil melarikan diri beberapa kali dari kamp yang berbeda sebelumnya.

Memiliki runtime hampir tiga jam dan menampilkan pemeran all-star, The Great Escape adalah petualangan yang benar-benar epik dengan skor fantastis buatan Elmer Bernstein, yang berhasil membuat film ini menjadi semakin luar biasa.

Film ini sangat populer dan sangat baik di box office tetapi tidak menerima banyak pujian kritis pada saat rilis karena dilihat sebagai film aksi yang ringan. Namun bertahun-tahun setelahnya, perawakan kritisnya telah tumbuh secara signifikan dan sekarang dianggap sebagai salah satu film klasik terbaik yang pernah dibuat.

3. Black Hawk Down
Black Hawk Down mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah film dengan adegan pertempuran berkelanjutan daripada film perang. Namun, kekerasan tanpa hentinya lah yang membuat Black Hawk Down menjadi sebuah film perang. Film ini disutradarai oleh Ridley Scott, yang lebih fokus pada visual dan tidak begitu banyak bercerita di dalamnya.

Black Hawk Down diadaptasi dari buku dengan judul yang sama, yang menggambarkan peristiwa Pertempuran Mogadishu. Alih-alih sebagai film anti-perang, film ini justru menjadi film aksi yang apik dan mengesankan secara visual.

Film ini lebih seperti video perekrutan tentara yang heroik ketimbang mencoba memberikan wawasan tentang kengerian perang. Meskipun hal itu mungkin terdengar negatif, tidak dapat disangkal kalau film ini dibuat dengan sangat baik.

Menampilkan jajaran pemeran yang mengesankan termasuk Josh Hartnett, Tom Sizemore, Ewan McGregor, Eric Bana, William Fichtner, Sam Shepard, Ewan Bremner dan Tom Hardy, Black Hawk Down menjadi salah satu film terbaik di tahun perilisannya.

4. Das Boot
Berdasarkan novel buatan Lothar-Günther Buchheim dengan judul yang sama, Das Boot adalah sebuah epik perang Jerman yang menceritakan eksploitasi U-boat dan krunya selama Perang Dunia II berlangsung.

Film ini memiliki banyak versi berbeda, yang dirangkum dengan baik oleh tiga versi berikut: potongan teater asli (150 menit), potongan sutradara 1997 (209 menit) dan versi mini-seri yang berjalan selama hampir enam jam.

Das Boot sendiri diceritakan dari sudut pandang Letnan Werner, seorang koresponden perang yang ditugaskan untuk melaporkan keluar-masuknya kapal U-Boat dan krunya dari Jerman pada tahun 1941. Film ini dengan sempurna menangkap rasa paranoia, tepatnya seperti apa rasanya hidup di dalam kapal selam yang sempit di bawah laut.

Das Boot dinominasikan untuk enam Academy Awards, berhasil membawa pulang serangkaian penghargaan di Jerman dan dianggap sebagai film kapal selam terbaik yang pernah dibuat.

5. Grave of the Fireflies
Berdasarkan novel semi-otobiografi dengan judul yang sama, Grave of the Fireflies adalah sebuah anime anti-perang dan mungkin salah satu film paling menyayat hati yang pernah dibuat. Film ini dibuka tepat setelah Jepang menyerah dalam Perang Dunia II, menyorot seorang anak laki-laki, Seita, yang meninggal sendirian di sebuah stasiun kereta.

Dari sana, semangat bocah itu menggambarkan kilas balik bagaimana ini semua terjadi, bermula saat pengeboman di kota-kota besar Jepang oleh Amerika beberapa bulan sebelumnya.

Jangan membuat kesalahan dengan menolak Grave of the Fireflies karena ini adalah sebuah anime. Film ini ada di jajaran tertinggi di antara film-film anti-perang terbaik yang pernah dibuat, dan mungkin akan mengejutkan kalian dengan subjek dewasa dan tragisnya.

Tanpa menunjukkan adegan pertempuran, film ini tetap menjadi salah satu gambaran paling jelas dari keburukan perang dan efeknya pada orang-orang biasa yang jauh dari garis depan. Sebagai sebuah karya besar dalam sejarah anime, Grave of the Fireflies adalah salah satu film perang terbaik yang wajib kamu lihat.

6. The Pianist
Film ini didasarkan buku otobiografi, Death of a City, yang dibuat oleh seorang pianis dan komposer Polandia-Yahudi, Wladyslaw Szpilman, yang dilarang terbit oleh Komunis Polandia dan tidak dicetak hingga dirilis kembali sebagai The Pianist pada tahun 1998.

Film drama sejarah ini bagaikan sebuah proyek pribadi Roman Polanski, mengingat dirinya dibesarkan di Polandia selama pendudukan Nazi dan melihat sebagian besar keluarganya dideportasi ke kamp kematian.

Sebagai sebuah film yang memukau dan sangat menyentuh, The Pianist berhasil mengabadikan kengerian dari kekejaman yang dilakukan oleh Nazi di kota Warsawa secara rinci, sementara masih dapat menemukan momen-momen keindahan yang tak terduga dan keyakinan pada kemanusiaan yang masih hidup.

Dramatik tanpa terlalu sentimental, menampilkan banyak karakter baik dan buruk di antara orang-orang Yahudi, Polandia maupun Nazi, The Pianist adalah film terbaik kedua setelah Schindler’s List yang berhasil menggambarkan kengerian Holocaust. Film ini dinominasikan untuk tujuh Oscar, memenangkan tiga nominasi termasuk Sutradara dan Aktor Terbaik.

7. Paths of Glory
Sebagai karya asli pertama Stanley Kubrick, Paths of Glory adalah salah satu film terbaik tentang perang yang pernah dibuat. Seperti semua film perang terbaik lainnya, film ini adalah sebuah pernyataan anti-perang yang kuat.

Berlatar selama Perang Dunia I, seorang Jenderal Prancis (George MacReady) memerintahkan serangan ke sebuah bukit yang dijaga ketat oleh Jerman. Mengetahui sepenuhnya bahwa serangan itu akan sia-sia, ia masih melanjutkan perintahnya saat ia mencoba membangun reputasinya sendiri.

Serangan itu sendiri adalah sebuah bencana, yang justru menghancurkan pasukan Prancis setelahnya. Dipotret dengan warna hitam dan putih seperti film dokumenter, Paths of Glory adalah dakwaan pedas dari kegilaan perang, memperlihatkan gambaran kontras antara mereka yang membuat keputusan dengan mereka yang sedang bertarung langsung.

8. The Deer Hunter
The Deer Hunter adalah salah satu film pertama Hollywood yang mulai berhadapan langsung dengan Perang Vietnam, sebuah konflik yang belum benar-benar dibahas di bioskop arus utama.

Bersama dengan Coming Home yang dirilis pada tahun yang sama dan menjadi pesaing film ini untuk Best Picture di Academy Awards, dan Apocalypse Now yang dirilis pada tahun berikutnya, The Deer Hunter berhasil membuka pintu untuk film yang berurusan dengan subjek yang sensitif ini.

Film ini mengikuti sekelompok teman dari kota kecil di Pennsylvania yang akan pergi berperang di Vietnam. Seiring dengan berjalannya film, pengalaman perang yang akan mereka alami di kemudian hari justru meninggalkan efek traumatis yang mendalam pada mereka semua.

The Deer Hunter dengan jelas menggemakan ambivalensi umum yang dirasakan tentang Perang Vietnam dan kekecewaan yang dialami Amerika setelahnya. Film ini dinominasikan untuk sembilan Academy Awards, dan akhirnya memenangkan lima nominasi termasuk Best Picture dan Best Director.

9. Schindler’s List
Berdasarkan buku Schindler’s Ark karya Thomas Kenneally, magnum opus karya Steven Spielberg ini adalah sebuah drama sejarah tentang Holocaust, didasarkan pada kehidupan Oskar Schindler, seorang industrialis Jerman dan anggota Partai Nazi yang berhasil menyelamatkan nyawa ratusan orang Yahudi.

Tanpa ragu, Schindler’s List adalah film terbaik Steven Spielberg dan salah satu film tentang Holocaust terbaik yang pernah dibuat. Liam Neeson berhasil memberikan penampilan yang menakjubkan sebagai Oskar Schindler, diikuti dengan penampilan Ralph Fiennes sebagai Amon Goeth, perwira Nazi yang menakutkan dan kejam.

Kinerja sinematografer Janusz Kamiński juga patut dipuji, karena berhasil memberikan film ini tampilan seperti layaknya film dokumenter dan berhasil membuatnya tampak seperti beberapa cuplikan sebenarnya yang diambil pada tahun 1940-an.

Schindler’s List disambut dengan pujian kritis yang hampir absolut, dinominasikan untuk dua belas Oscar, memenangkan tujuh di antaranya termasuk Best Picture dan Best Director. Film ini juga memenangkan empat Golden Globes dan tujuh BAFTA di samping banyak penghargaan internasional lainnya. Sebuah film yang monumental.

10. Saving Private Ryan
Lima tahun setelah menciptakan salah satu film terbaik tentang Holocaust di Schindler’s List, Steven Spielberg kembali ke ranah Perang Dunia II dengan Saving Private Ryan, sebuah film yang berhasil menggambarkan momen yang terjadi pada D-Day.

Menampilkan salah satu adegan pertempuran paling intens yang pernah dilakukan untuk seluloid, Saving Private Ryan dimulai dengan serangan visual selama 24 menit yang menggambarkan pendaratan pasukan Sekutu di pantai Omaha, Normandia.

Jarang ada film lain yang menggambarkan kekerasan tanpa henti dalam cara realistis yang meyakinkan, dengan sempurna menangkap kegilaan perang dan kekacauan total pendaratan di pantai Omaha dari sudut pandang orang-orang yang menyerbu pantai tersebut seperti film ini.

Saving Private Ryan sukses secara kritis dan finansial, menerima banyak nominasi penghargaan, termasuk dinominasikan untuk sebelas Oscar dan memenangkan lima di antaranya, termasuk Best Director kedua untuk Steven Spielberg (yang pertama ia dapatkan dari Schindler’s List).

11. Dunkirk
Christopher Nolan memang terkenal lewat pencampuran alur di dalam film-filmnya, lengkap dengan turn dan twist yang mind-blowing. Setelah rehat selama tiga tahun sejak merilis Interstellar, Nolan kembali mengguncang Hollywood pada tahun 2017 dengan Dunkirk, sebuah film yang berlatar pada Perang Dunia II.

Film drama-sejarah-perang ini menceritakan proses evakuasi 300.000 prajurit Sekutu (Bitania dan Prancis) yang sudah terdesak di Pantai Dunkerque (Dunkirk) setelah Prancis jatuh ke tangan Nazi Jerman.

Kisah penyelamatan krusial di Dunkirk memang sudah banyak diceritakan dalam beberapa versi sebelumnya, namun tetap saja kita tidak dapat mengabaikan versi terbaik yang dibuat oleh Nolan ini. Desain musik dari Hans Zimmer berhasil menggambarkan perasaan panik para prajurit dalam film ini, yang disertai dengan penggunaan lanskap yang luas.

Dunkirk akhirnya mendapatkan delapan nominasi Oscar dan berhasil membawa pulang tiga nominasi. Sayangnya, Nolan kembali gagal mendapatkan Oscar pertamanya lewat film ini.

12. Full Metal Jacket
Berdasarkan novel The Short-Timers karya Gustav Hasford, Full Metal Jacket adalah sebuah mahakarya Stanley Kubrick yang menggambarkan keganasan Perang Vietnam. Dalam satu tahun (1987) yang diisi dengan film-film tentang Perang Vietnam, Full Metal Jacket berdiri tegak di atas para kompetitor dan menerima pengakuan dari para kritikus.

Paruh pertama film ini, yang berlatar di kamp pelatihan, secara khusus dipuji oleh para kritikus. Secara finansial, film ini awalnya tidak berjalan dengan mulus, terutama karena film perang lainnya, Pleton, telah medapatkan sukses besar di beberapa bulan sebelum film ini rilis.

Dan tidak seperti film itu, Full Metal Jacket juga dilecehkan di Academy Awards, di mana ia hanya menerima satu nominasi untuk Skenario Adaptasi Terbaik. Pukulan telak bagi Kubrick ini berlangsung selama dua belas tahun penuh, tepatnya sampai ia merilis film berikutnya dan terakhirnya, Eyes Wide Shut.

13. The Thin Red Line
Setelah mengambil jeda selama dua puluh tahun, Terrence Malick kembali ke pembuatan film dengan The Thin Red Line, sebuah adaptasi dari novel dengan judul yang sama yang menceritakan kampanye Guandalcanal di Teater Pasifik selama Perang Dunia II.

Di sana, film dibagi menjadi serangkaian segmen yang menyentuh pengalaman berbagai prajurit. Sepanjang film, audiens akan dipaksa mengetahui rahasia terdalam dari sang tokoh utama, terutama ketika kemunculan narasi suara yang merenungkan kehidupan, kematian, dan semua yang terjadi di sekitarnya.

Bukan film perang tradisional, The Thin Red Line hanya menampilkan sedikit pertempuran dan berfokus pada keindahan alam yang luar biasa (ciri khas Malick). Film ini juga menampilkan deretan aktor yang fantastis, termasuk John Cusack, Woody Harrelson, Ben Chaplin, Adrien Brody, John Savage, Jared Leto, John Travolta dan George Clooney.

14. Apocalypse Now
Terkenal karena proses produksinya yang bermasalah, Apocalypse Now adalah sebuah film perang dengan citra surealis dan halusinasi, menjadikannya sebuah film yang sangat ambisius dan benar-benar unik.

Secara longgar diadaptasi dari buku Heart of Darkness karya Joseph Conrad, Francis Ford Coppola dan John Milius mengubah latar di dalamnya dari Afrika era kolonial menjadi Vietnam yang dilanda perang, tetapi tetap berpegang pada tema-tema kegilaan dan dualitas manusia yang mendasari buku itu.

Meskipun proses produksinya panjang, sarat akan masalah dan melampaui anggaran, Apocalypse Now tetap menjadi hit kritis dan finansial ketika akhirnya muncul di bioskop pada tahun 1979. Film ini menerima delapan nominasi Academy Award setelah dirilis di Amerika Serikat, memenangkan Sinematografi Terbaik dan Suara Terbaik.

Sebagai sebuah tonggak penting dalam dunia perfilman dan representasi sempurna dari kegilaan perang, Apocalypse Now berada di antara film-film terbaik yang pernah dibuat.

15. Come and See
Come and See adalah salah satu film perang yang paling mengerikan dan menghantui yang pernah dibuat. Fakta ini semakin diperkuat saat sang sutradara, Elem Klimov, tidak pernah membuat film lain setelah Come and See, menyatakan kalau dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk membuat film lain.

Berlatar di Republik Soviet Byelorusia (sekarang Belarus), film ini mengikuti kehidupan Flyora, seorang pemuda desa yang menemeukan senapan Rusia tua dan mulai bergabung dengan Partisan setempat. Setelah dipisahkan dari pasuka utamanya, Flyora mulai melakukan perjalanan di mana ia akhirnya menyaksikan kengerian perang yang sebenarnya.

Pada akhirnya, kengerian itu tidak disampaikan melalui kekerasan atau darah, melainkan melalui mata. Bidikan yang paling berkesan dari film ini adalah ketika Flyora berpose dengan tiga orang Jerman, di mana salah satunya mengarahkan pistol Luger ke kepalanya. Come and See adalah film yang akan menghantui kalian untuk waktu yang lama.

Nah, itu tadi 15 film perang terbaik yang harus kamu menonton 1917. Bagaimana, tertarik untuk menonton semuanya?

Loading...

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*